Beranda | Artikel
Melatih Anak Untuk Berpuasa
Selasa, 7 Juli 2020

Bersama Pemateri :
Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary

Melatih Anak Untuk Berpuasa merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 16 Dzulqa’dah 1441 H / 07 Juli 2020 M.

Kajian Islam Ilmiah Tentang Melatih Anak Untuk Berpuasa

Kita akan melanjutkan pembahasan yang ada dalam buku mencetak generasi rabbani, kita masuk pada poin ketiga dalam bab penanaman anak dan penguatan pilar-pilar keislaman. Kita sudah membahas tentang shalat, pentingnya kita melatih, membiasakan dan menanamkan kecintaan kepada shalat kepada anak-anak kita, bahwa itu adalah perkara yang penting di dalam agama, rukun Islam yang kedua yang perlu kita latih pada anak-anak kita sejak dini.

Lihat juga: Penjelasan Rukun Islam

Nabi mengatakan:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ

“Suruhlah anak-anak kamu mengerjakan shalat pada usia 7 tahun.”

Kita melatih mereka untuk mengerjakan shalat, mengerti tentang shalat, tertib dan disiplin terhadap waktu-waktu shalat, dan itu perlu waktu yang panjang sebelum dia masuk usia baligh, mungkin 10 tahun keatas dia akan sampai pada usia baligh dan seiring dengan itu dia menjadi seseorang yang mukallaf (bertanggung jawab atas apa-apa yang dilakukannya dan telah dikenai kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan). Maka pada saat dia menapaki usia tersebut dia sudah siap melaksanakan kewajiban agama yang agung ini, yaitu menegakkan shalat.

Melatih anak untuk berpuasa

Dan kemudian diantara rukun Islam yang perlu kita latih pada anak-anak kita adalah pelatihan puasa. Puasa ini harus kita latih anak-anak kita untuk mengerjakannya. Karena ini berkaitan dengan -khususnya untuk anak-anak- menahan makan dan minum. Ini adalah perkara yang agak susah, karena anak-anak susah untuk melupakan makanan. Dan ia pasti akan meronta kalau dia lapar. Maka disini sebelum dia menapaki usia mukallaf dimana dia bertanggung jawab untuk mengerjakan kewajiban puasa ini, maka seyogyanya sudah kita perkenalkan puasa sejak anak ini masih kecil dimana dia mampu untuk mengerjakannya sesuai kapasitas dan kemampuannya.

Kita dulu waktu kecil ada istilah “puasa setengah hari” yang berbukanya adalah adzan dzuhur. Hal itu tidak mengapa untuk anak-anak. Kalaulah dia hanya mampu puasa setengah hari, biarkan dia berpuasa setengah hari, jangan dicela, jangan diejek bahkan dihukum karena puasanya hanya setengah hari. Beri terus targhib (motivasi) baik itu dengan suntikan semangat kepadanya ataupun hadiah supaya dia tergerak untuk mengerjakannya. Nanti akan kita bawakan riwayat-riwayat dari para sahabat dimana mereka memberikan hadiah ataupun pemberian mainan kepada anak-anak supaya mereka mau berpuasa dan lupa kepada makanan.

Puasa adalah ibadah rohani sekaligus jasmani. Dia bukan hanya ibadah rohani, tapi menuntut juga kesiapan jasmani. Oleh karena itu orang yang sakit, sedang Safar, boleh tidak berpuasa, itu untuk orang dewasa. Kalau dia sedang sakit Safar maka gugur atasnya kewajiban puasa itu, dia boleh berbuka. Jadi ibadah puasa menuntut kesiapan jasmani.

Tentunya yang namanya jasmani atau badan kita, berlaku hukum “alah bisa karena biasa”, kalau kita biasakan tubuh kita pada suatu pola tertentu maka dia akan terbiasa. Kalau kita disiplin mengatur makan misalnya tiga kali sehari, kita tidak akan lebih. Ada orang yang makannya lima kali sehari. Hal ini karena badannya terbiasa atau terpola untuk itu, dia biasakan jasmaninya makan lima kali sehari semalam. Padahal normalnya adalah tiga kali; sarapan pagi, makan siang, makan malam. Ada yang terbiasa dua kali dan tidak terbiasa tiga kali, dia merasa badannya berat kalau makan tiga kali sehari. Bahkan ada orang yang makannya terbiasa satu kali sehari dan dia tidak tersiksa. Jadi ini adalah kebiasaan jasmani yang harus dibiasakan.

Demikian pula puasa ini, puasa itu sangat berat dan menyiksa bagi orang yang tidak membiasakannya. Bahkan seperti mau meninggal rasanya ketika dia berpuasa. Ada orang yang sampai tepar, tidak bisa bangun dari tempat tidurnya, ia tergeletak seperti orang pingsan. Hal ini karena dia tidak terbiasa berpuasa.

Bagi orang yang biasa berpuasa, tidak ada beda. Bahkan terkadang antara waktu berpuasa dengan waktu tidak berpuasa biasa saja dia melakukan aktivitas sebagaimana biasa, tidak menguranginya ataupun meninggalkannya dengan alasan berpuasa. Itu artinya dia sudah terbiasa puasa, sehingga puasa tidak lagi menjadi beban bagi dirinya secara jasmani.

Ada orang yang sebaliknya,berpuasa dijadikan alasan untuk bermalas-malasan, baring-baringan seharian sehingga shaum (الصوم : puasa) berubah menjadi naum (النوم: tidur), baru bangun dari tidurnya menjelang adzan maghrib. Hal ini karena memang jasmaninya begitu tersiksa dengan ibadah puasa itu. Maka dari itu anak-anak harus kita latih untuk berpuasa. Dan di sini tentunya kita mendahulukan targhib (dorongan-dorongan positif) melalui hadiah, apresiasi dan sejenisnya.

Jadi melalui puasa anak akan belajar untuk menahan dahaga, bahwa di sana ada orang yang tidak seberuntung dirinya yang bisa makan setiap hari, di sana ada orang yang tidak bisa makan setiap hari. Anak juga akan belajar bersikap ikhlas, tulus kepada Allah. Karena puasa itu adalah untuk Allah dan hanya Allah yang akan membalasnya. Karena orang yang puasa itu kita tidak tahu dia puasa atau tidak puasa. Boleh jadi dia makan diam-diam, hanya Allah yang tahu, boleh jadi dia minum dan tidak ada orang yang tahu, hanya Allah yang tahu. Jadi anak diajarkan untuk bersikap ikhlas dan tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia merasa selalu merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kesendiriannya.

Dia juga akan terlatih menahan hasrat pada makanan meskipun lapar. Dan ini untuk melatih mengekang hawa nafsu. Kalau kita melatih diri untuk menahan hawa nafsu, maka latihannya adalah melatih diri untuk menahan dari hal-hal yang kongkrit, melatih diri untuk menahan dari makan walaupun kita terdorong untuk makan karena lapar dan juga dari minuman sekalipun haus. Itu adalah latihan untuk meredam hawa nafsu. Puasa akan menguatkan daya kontrol anak-anak terhadap keinginan-keinginan duniawi.

Dan ini juga merupakan latihan kesabaran dan ketabahannya. Maka puasa itu maknanya adalah imsak (menahan). Dan ini juga makna yang terdapat pada sabar, sabar artinya juga sama dengna puasa, yaitu menahan diri.

Jadi banyak latihan-latihan yang bisa kita petih dari ibadah puasa, khususnya bagi anak-anak kita. Terutama Allah mengatakan di dalam Al-Qur’an bahwa puasa itu adalah untuk mencetak diri kita menjadi hamba yang bertakwa.

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan itu yang kita harapkan terpatri pada anak-anak kita dengan ibadah puasa yang dikerjakannya, yaitu ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini..

Download mp3 Kajian Islam Tentang Melatih Anak Untuk Berpuasa

Lihat juga: Cara Mendidik Anak dan Pentingnya Mencetak Generasi Rabbani


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/48691-melatih-anak-untuk-berpuasa/